Friday, October 02, 2009

happy batik day



...dan sebagian saudara kita di Padang, Sumatera Barat, tak mampu memakai baju batik. Karena hanya memiliki sepotong kain kafan... putih bermotif merah bercak darah...




Selanjutnya...

Thursday, October 01, 2009

earthquake again



kembali Allah menegur kita dengan cara-Nya yang 'cukup sopan'... Adakah kita 'mendengar'nya??




Selanjutnya...

Saturday, September 26, 2009

idealism vs realism


apa seh yang bikin harga sebuah logo bisa puluhan/ratusan juta, bahkan miliaran rupiah...? Mungkin sedikit pengalamanku waktu bikin logo 1 Abad Muhammadiyah bisa dishare, buat nambah2 wawasan bareng. Logo event muktamar Muhammadiyah pada 2010 ini kebetulan bertepatan dengan umur organisasi Islam besar tersebut genap 100 tahun atau 1 abad. Berawal dari sebuah brief sederhana yg ditulis tangan, yang aku terima sekitar bulan Pebruari 2009.
Bahwa Muhammadiyah mau bikin hajatan besar pada 2010, yaitu muktamar ke 46, sekaligus peringatan 1 abad Muhammadiyah. Waktu itu briefnya adalah poster dan bukan logo, sehingga kami sempet agak bingung juga... karena contohnya poster muktamar ke-45 yang di Malang, ya logonya itu.

Kami dikasih waktu satu minggu buat bikin logo, konsep dan aplikasinya diberbagai media... plus penawaran harga yang diinginkan. Langkah pertama... googling, siapa seh yang bikin logo muktamar ke-45 sekalian berapa harganya? Maka ketemulah desainernya, lengkap dengan hadiah yang dia terima... (itu harga 5 tahun yang lalu). OK!! mulailah badai otak (brainstorming), explorating... terus berkecamuk seiring dadline waktu yang ditentukan. Karena ini kerjaan freelance, ya dipikir sendiri, dialog dengan dirisendiri, akhirnya berdamai juga dengan diri sendiri... Muncullah ide, mengembangkan angka 46, dengan landmark Jogja (tempat acara muktamar) yang paling mudah ditemukenali.... Tugu!!!. Bikin 2 alternatif dengan warna dan bentuk yang berbeda, konsepnya lengkap, aplikasinya di berbagai media juga komplit... terakhir pengajuan harga.

Setelah menunggu keputusan beberapa hari... aku dihubungi panitia, suruh menemui salah seorang panitia, bagian logo. Kebetulan beliau dosen arsitektur Universitas Islam indonesia... Ustadz yang 'nyeniman', begitulah kesan pertama ketemu beliau. Berawal dari sinilah proses 'pengembaraan' sesungguhnya baru dimulai. Ada pertikaian antara idealisme dan keinginan klien, ini hal wajar bagi seorang desainer yang 'sok idealis' sepertiku. Ternyata landmark tugu Jogja hanya menggambarkan lokasi semata dan tidak ada 'ruh' Muhammadiyah di dalamnya. Lalu apa ciri khas Jogja selain tugu? Kraton, Pasar Ngasem, Kota Gede... Nah, ternyata cikal-bakal Muhammadiyah berawal dari Masjid Gede Kauman (Barat alun-alun utara). Masalahnya, bangunan masjid2 Jawa cenderung hampir sama, tanpa kubah danberatap Limasan. Apa yang membedakan Masjid Kauman Jogja dan Solo misalnya? Ambil kamera, motrat-motret masjid dari berbagai sudut, dan ketemulah diferensiasinya.... ada 'lengkung jam' di gerbang depan... Yes !!!!
Maka mulailah menggabungkan unsur Masjid Kauman dengan angka 46... ber-versi2, berwarna2... Tapi,... masih belum memuaskan klien, karena ternyata yang pengen dimunculkan bukan angka muktamar ke-46-nya tapi moment 100 tahun atawa 1 abad.... Banting stir!!! lupakan angka 46, konsentrasi pada 100 tahun... atau 1 abad.

Berpuluh alternatif logo, yang merupakan visualisasi dari tema "gerak melintasi zaman, dakwah dan tajdid, menuju peradaban utama" digabung dengan lambang Muhammadiyah, angka 1 abad dan landmark Masjid kauman, gak lupa kombinasi warnanya. Sampai di sini, petualangan belum berakhir, karena panitia menginginkan dalam logo/poster tersebut tergambar kesuksesan Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, dll. Sampai pada suatu kesempatan, aku diminta presentasi dihadapan petinggi-petinggi Muhammadiyah, termasuk Bp. Din Syamsudin, Bp. Malik fajar, Bp. Haidar Nashir, dan bapak-bapak yang lain. Di sinilah idealisme seorang desainer grafis dipertaruhkan!

Inilah kesempatan bagiku buat mempresentasikan logo event, bedanya dengan poster. Karena sepanjang sejarah muktamar Muhammadiyah sampai yang ke-45, logo event ya posternya itu. Selain aku buat logo yang sesuai keinginan klien, meskipun agak2 rumit dan mendekati 'lambang' aku juga ajukan satu alternatif lagi yang versi 'desainer'. Maka kesepakat akhirnya win-win solution seperti yang sudah dilaunching di Stadion Mandala Krida 18 Juli lalu bersama jingle ciptaan Dwiki Darmawan. Alhamdulillah... meski tidak semua idealismeku terpenuhi, tapi itulah hasil terbaik. Dan aku bisa bernafas lega setelah dari brief di Pebruari hingga deal di bulan Juni.
Hikmah yang bisa diambil, inilah kehidupan desainer freelance! Dimana sering terjadi benturan-benturan antara idealisme vs realisme. Selamat jelang muktamar 1 abad Muhammadiyah! Semoga makin menancapkan semangat dakwah, dan makin menebarkan manfaat bagi bangsa tercinta ini... Amien.


Selanjutnya...

Wednesday, September 23, 2009

after 'party'


masih adakah jejak keshalihan Ramadhan di 11 bulan sesudahnya? Karena hanya orang-orang bertaqwa yang konsisten melestarikannya...


jika para sahabat Nabi SAW saja selalu gelisah jika ditinggal Ramadhan, karena begitu khawatir kalau amal-amalnya nggak diterima Allah, pantaskah kita yang beribadah 'seadanya' berbangga-bangga "Merayakan Kemenangan" dan kembali suci, untuk siap mengotori diri lagi dengan dosa dan maksiat?




Selanjutnya...

Friday, September 11, 2009

last 10 days


jangan pernah berpaling dari-Nya, siapa tahu Ramadhan depan kita tak bertemu!



jangan buru-buru kau gulung sajadahmu! meski Ramadhan kan berlalu, karena ibadah tak kenal waktu!




Selanjutnya...

Sunday, September 06, 2009

ramadhan 1430 H edition


Ramadhan heart softener



... andai hari ini adalah Ramadhan terakhir bagimu, maka amal terbaik apakah yang akan kau banggakan dihadapan-Nya?



tak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus, dan tak ada dosa besar jika diiringi dengan taobat



meskipun di bulan Ramadhan pintu neraka ditutup, tapi tak ada jaminan bagi kita untuk tetep 'ngotot' ingin memasukinya



meskipun di bulan Ramadhan setan2 diborgol, tapi manusia sudah tidak memrlukan godaannya. karena manusia sudah pinter dan mandiri dalam bermaksiat kepada-Nya.




Selanjutnya...

Monday, August 03, 2009

woman hardworker #2


sebagai salah satu negeri dengan perkembangan tercepat di dunia, Hongkong dituntut untuk selalu berubah dan berubah terus. Sehingga produk-produk fashion, komputer, kamera, handphone dan lain-lain daur hidupnya menjadi semakin pendek. Gak heran kalo sebuah majalah terbitan Malaysian Airlines merekomendasikan Hongkong sebagai salah satu tujuan shoping dengan harga yang 'masih bisa ditawar'. Mulai dari barang bermerk yang dijual kaki lima di kawasan Mongkok, hingga barang-barang elektronik bekas di Sam Sui Po. Jangan kaget kalo ketemu sebuah produk dengan tiga kali coretan harga, menjadi semakin murah. Produk fashion yang berada di dalam etalase mewah ditunggui pramuniaga, dalam waktu 3 bulan bisa pindah ke kotak depan menjadi barang obral. Dampak dari semua itu mempengaruhi life style penghuni Hongkong, hingga ke gaya hidup para TKW-nya. Seorang pembantu rumah tangga, sering ganti HP 3,5G yang bermerk, bahkan mampu membeli rok mini seharga jutaan atau bahkan puluhan juta rupiah, lebih mahal dari rok mini yang dipakai majikannya.

Seorang pembantu 'anyaran', biasanya digaji kisaran 3.500 $HKD atau sekitar 4,5 juta rupiah dengan kontrak kerja per 2 tahun. Jika salah satu pihak menyalahi kontrak sebelum waktunya, maka keduanya bisaling tuntut menuntut. Baik majikan maupun pembantu. Ini salah satu aturan yang membedakan perlakuan para TKW di Malaysia. Setiap kali perpanjang kontrak, majikan punya kewajiban memberi bonus, hadiah dan juga kenaikkan gaji. Maka gak heran jika seorang TKW yang loyal pada majikannya selama belasan tahun, maka gajinya sudah mencapai puluhan juta rupiah. Dengan gepokan uang dolar di tangan para TKW tersebut, memancing beberapa institusi lokal Indonesia untuk membuka cabang di Hongkong. Mulai dari jasa perbankan (sebut saja Bank Mandiri, Bank BNI, dll), jasa asuransi, lembaga training, bahkan lembaga-lembaga sosial keagamaan. Keberadaan lembaga-lembaga tersebut bukan buat mengasihani para TKW tapi justru untuk 'membantu' mereka 'menafaatkan' gepokan dolar tadi. Banyak cara yang dilakukan berbagai lembaga tersebut dalam hal "membantu memanfaatkan" uang para TKW yang kebanyakan masih lugu. Mulai dari iming-iming, janji, bahkan sampai berkesan menakut-nakuti. ALIF mencoba memberi pemahaman dan ketrampilan pada para teman-teman TKW lainnya agar tidak terlalu lugu, supaya bisa terhindar dari 'jebakan-jebakan' tersebut.
Sebenarnya sebelum ALIF lahir, telah muncul organisasi 'kakaknya' yang bernama FKMPU (Forum Komunikasi Muslimat Peduli Umat) dengan anggota yang lebih banyak dari anggota ALIF. Forum inilah sebenarnya yang lebih konsern dalam menggembleng angotanya dengan memberikan pembinaan moral spiritual. Agar para TKW tidak terjebak dalam hitamnya kehidupan Hongkong, dan agar tidak silau menatap gemerlap terangnya hingar-bingar Hongkong. Markas FKMPU di sebuah apartemen yang cukup luas dengan sewa puluhan juta rupiah sebulan, masih satu deret dengan apartemen ALIF di kawasan Couseway Bay. Dengan hanya beberapa orang saja yang masih berstatus TKW inilah yang terus dan terus memperjuangkan nasib para TKW tersebut dengan kendaraan FKMPU dan ALIF yang masing-masing memiliki media majalah bulanan. Fantastis!
Sebagian besar masalah TKW tidak hanya muncul di Hongkong, bahkan sering berkaitan dengan kondisi keluarga yang ditinggalkannya. Ada yang istrinya bekerja keras, mengumpulkan uang, sementara suaminya di kampung selingkuh atau bahkan nikah lagi. Ada yang bekerja menjadi TKW, sementara keluarganya di kampung menjadikannya sebagai mesin uang. Tidak boleh pulang kampung dulu sebelum rumahnya berlantai tiga, saudara-saudaranya sudah punya rumah semua, atau alasan lain yang dibuat oleh keluarganya. Maka ketika kontrak kerja habis, dan mereka kembali ke kampungnya, ke tengah-tengah keluarganya, tak ada lagi uang tersisa selain rumah-rumah yang mewah. Belum lagi faktor psikologis, termasuk perbedaan lingkungan yang drastis dari lingkungan Hongkong dengan gedung-gedung pencakar langit yang gemerlap, teratur, disiplin penduduknya... kembali ke kampung yang jorok, becek dan gelap. Juga sikap, pola pikir dan gaya hidup keluarga yang terasa 'tidak nyambung' dengan suasana Hongkong. Maka biasanya, TKW seperti ini tidak akan bertahan lama dikampungnya. Suasana Hongkong sudah menjadi candu, di sisi lain lingkungan asal dirasa kurang kondusif baginya. Hidup menjadi terasa asing di kampungnya sendiri, sementara uang juga susah dicari, bisa ditebak solusi pragmatisnya... menjadi TKW lagi. Meski tak bisa ke Hongkong lagi, ke Malaysia juga tak apa-apa.
Kenapa bisa seperti itu? siapa yang salah dalam hal ini? Tidak ada gunanya mencari kambing hitam. TKW juga harusnya memiliki jiwa wirausaha, agar uang hasil kerjanya tidak terbuang sia-sia, suami, keluarga, dan lingkungan juga seharusnya mendukung upaya tersebut. Lebih-lebih peran pemerintah, tidak cuman bisanya melarang-larang pengiriman TKW, tapi harus ada upaya konkrit memberikan pembinaan mental dan life skill (kecakapan hidup) yang sesuai potensi masing-masing TKW dan potensi kampung dimana mereka tinggal.
*Foto diambil dari Star Ferry pada malam puncak peringatan kemenangan Hongkong, 1 Juli 2009

Selanjutnya...