Thursday, October 20, 2011

the power of faith

Sikap seseorang terhadap sesuatu sangat dipengaruhi seberapa besar keyakinan terhadapnya. Maka betapa banyak orang yang telah salah dalam meletakkan keyakinannya. Ada sebagian orang yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk musik, karena yakin bahwa musik itulah yang bisa membuatnya sejahtera. Ada orang yang mengerahkan seluruh jiwa, raga dan pikirannya untuk sebuah bisnis, karena dia yakin bisnis itulah gantungan hidupnya. Dan lebih banyak lagi potret-potret sosial yang menggambarkan sejauh apa keyakinan seseorang pada sesuatu.

Jangankan keyakinan yang salah, bahkan jika kita ragu saja terhadap sesuatu yang seharusnya kita yakini, maka akan sangat mempengaruhi sikap kita terhadapnya. Mengapa seseorang enggan enggan berbuat baik, beramal shalih, atau shalat Shubuh berjamaah di masjid di pagi buta yang dingin? Bisa jadi alasannya karena masih ngantuk, males, bangun kesiangan, dan segudang alasan klise yang dibuat untuk membenarkan sikapnya. Padahal kita sudah tahu betul pahala apa yang akan didapat jika kita mau mengamalkannya.
Maka sangat mungkin alasan segudang tadi, salah semua!.
Al Qur’an di awal surat Al-Baqarah telah menyebutkan dengan gamblang, bahwa kitab ini diturunkan sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertqwa, dan tiada keraguan di dalamnya. Siapa orang yang bertaqwa? Ayat berikutnya juga menyebutkan dengan jelas, yakni orang-orang yang mengimani (baca: yakin) hal-hal yang ghoib, mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rizkinya (di jalan-Nya).
Keyakinan terhadap sesuatu yang ghoib adalah sebuah jawaban. Pahala itu ghoib, sorga/neraka itu ghoib, bahkan Allah ta’ala juga ghoib. Jika saja ada kebijakan dari Depag, bahwa barang siapa yang shalat shubuh berjamaah di masjid, satu orang akan mendapatkan uang Rp. 50.000... Maka bisa dipastikan orang akan berbondong-bondong memadati masjid di waktu shalat shubuh tiba. Setiap keluarga akan menghitung berapa jumlah anggotanya dan tinggal mengalikannya dengan selembar uang lima puluh ribuan. Ngantuk akan ditepis, malas akan dihalau, dinginnya pagi tak akan dirasa, demi uang tersebut. Mengapa? Karena selembar uang lima puluh ribuan itu riil, nyata, bisa diraba, bisa dipegang dan bisa dimasukan ke dompet.
Padahal balasan Allah jauuuuuuhhhh.... lebih besar dari sekedar lembaran uang lima puluh ribuan. Tapi sekali lagi, bahwa pahala, sorga, adalah tidak kasat mata. Setiap orang ketika ditanya, pasti jawabannya ingin masuk sorga. Tapi ketika ditanya tentang kematian, sebagian orang menjawab belum siap, takut untuk mati. Ironis !! karena tak ada sorga tanpa didahului melewati sebuah pintu yang bernama kematian.
Maka hari ini, jam ini, saat ini... adalah waktu yang tepat untuk bertanya pada ‘cermin’... Seberapa yakin sih kita sebenarnya terhadap janji Allah, terhadap ketentuan Allah, atau bahkan... seberapa yakin sih kita dengan keberadaan Allah? Na’udzubillah....

Labels:


Selanjutnya...

Thursday, June 16, 2011

S3 (bukan doctor)

Begitulah manusia, kadang sering melakukan hal-hal yang ironis.

Karena kebodohannya, ketika memohon2 sesuatu kepada-Nya, lalu Dia kasih apa yg kita minta tapi lalu kita menolaknya. Paling tidak sehari semalem kita 17 kali merengek-rengen, memohon-mohon agar diberikan 'jalan yang lurus' yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat... Tapi kita gak tau siapa orang-orang yang telah diberi-Nya kenikmatan?
Jika tidak dijelaskan, maka setiap kita bisa menerjemahkan ayat dalam surat Al-Fatihah tersebut sesuai dg 'frame of refference' dan 'deep of experience' masing-masing. Apakah orang yang diberi nikmat dalam surat Al-Fatihah tersebut adalah yg orang yang kaya? hartanya melimpah... Atau orang yang jabatannya tinggi?, seperti Menteri, Presiden, dll... Atau orang yang pinter-pinter? seperti para pakar, profesor, dll.. Atau yang lain?

Mari kita tengok di surat An-Nisa' ayat 69, yang dimaksud dg 'an'amallohu 'alaihim (orang-orang yang telah memperoleh karunia dari Allah) paling tidak ada 4. Yakni para Nabi, para Shiddiqin, Syuhada dan Sholihin. Untuk mencapai level seperti para Nabi, kayaknya kita gak mungkin deh. Maka bisa diturunkan levelnya, yaitu S3 (shidiqin, syuhada, sholihin). Nah loh !... ternyata orang2 yang telah diberi nikmat oleh Allah adalah orang2 yg jujur, syahid dan sholih. Jadi, untuk bisa mendapatkan jalan yang lurus seperti yang tiap hari kita mohonkna pada-Nya dalam Surat Al Fatihah adalah S3 tersebut. Lalu kalo dah tau untuk mendapatkan jalan kemuliaan tersebut kita harus menjadi orang2 yg jujur, syahid dan sholih... apa kita masih manat?

Maka ketika jalan itu sudah ditunjuki-Nya dan ternyata harus jadi orang yg baik, jujur bahkan berani syahid.... kita malah berbalik arah. Minimal berbelok, karena untuk mendapat jalan yg lurus, jalan kemuliaan.. koq gak enak ya? dan itulah yang membuat 'harga' surga gak semurah 'neraka'.

Begitulah manusia, kadang sering melakukan hal-hal yang ironis.

Selanjutnya...

Friday, July 02, 2010

Hanung menghidupkan Ahmad Dahlan

Sabtu 3 Juli 2010, Jogja tumpah-ruah oleh hiruk-pikuk oleh warga Muhammadiyah. Sebuah organisasi Islam besar yg berulang tahun di usianya yg 1 abad. Dengan mengusung tema "Gerak melintasi Zaman, dakwah dan tajdid menuju peradaban utama" gaung itu sudah menggema sejak setahun lalu. Menurut wali kota Jogja diperkirakan ada 1 juta orang akan membanjiri kota pelajar ini, dan prediksinya dalam waktu sekitar 5 hari ada perputaran uang sekitar 100 miliar rupiah.... Spektakuler!!!

Sudah sejak beberapa bulan lalu, seluruh penjuru kota dari kampung kumuh hingga pusat2 kota dipenuhi oleh berbagai spanduk dan baliho yg berisi himbauan atau ucapan selamat bermuktamar. Bahkan sebuah perusahaan taxi dikontrak untuk ditempeli stiker tentang muktamar di kaca bagian belakang mobilnya. Bendera2 hijau dg lambang muhammadiyah berkibar, berderet disepanjang jalan sesuai dengan lokasi Cabang dan Ranting Muhammadiyah berada.

Di sisi lain, Hanung Bramantyo, sutradara muda yg lagi naik daun dan jebolan SMA Hummadiyah 1 Jogja juga ikut meramaikan acara muktamar ini dengan membuat film semi dokumenter yang berjudul "Sang Pencerah". Meski sedikit meleset dr planning yang seharusnya film tersebut dilaunching pas muktamar, namun sepertinya mundur. Lokasi shooting di Masjid Kauman Jogja yangsempat di'sulap' menjadi masjid 'djaman dahoeloe' dengan mengahbiskan biaya yang tidak sedikit. Peran Nyai Akhmad Dahlan-pun dijatuhkan pada sang istri Zaskia Mecca.

Dari dua cerita di atas, Muktamar dengan tema besar di spanduk dan balihonya. Lalu Hanung dengan Ahmad Dahlannya, sebuah kisah yang sebenernya agak berbeda, meskipun dihubungkan dengan satu event, yakni Muktamar. Lazimnya, sebuah acara besar dengan tema besar, sosialisasinya juga 'nyambung'. Artinya jika tema yang diangkat adalah "Gerak melintasi zaman, dakwah dan tajdid menuju peradaban utama" maka visualisasi baliho, stiker mobil dan media2 lainnya menggambarkan tentang tema tersebut. Bisa berupa keberhasilan yang sudah dicapai oleh Muhammadiyah dalam kurun 1 abad, baik dibidang sosial, pendidikan kesehatn dan sebagainya. Tapi dari sekian banyak media yang dipakai untuk mensosialisasikan acara ini justru menggunakan ilustrasi tunggal lukisan Ahmad Dahlan. Sehingga memunculkan pertanyaan: "Ini acara satu abad Muhammadiyah apa satu abad Ahmad Dahlan?"

Lalu apa hubungannya baliho, spanduk, poster, stiker bergambar Ahmad Dahlan dan proyek film "Sang Pencerah"nya Hanung?. Seorang pakar pemasaran dunia, Peter F. Drucker berpendapat "sell is antithesis of marketing". Sehingga beberapa produk perlu melakukan upaya2 mendekatkan dulu produk yg bakal dilaunching dg berbagai event, promosi atau bahkan iklan teaser. Harapannya, ketika produk itu diluncurkan, maka sasaran sudah tidak asing lagi dan dg gegap gempita akan menyambutnya.

Sabtu 3 Juli 2010, perhelatan akabar itu digelar dengan meriah. Banyak warga yg menunggu hasil2 yg mencerahkan dari acara Muktamar 1 abad Muhammadiyah ini. Setelah kemaren beramai2 untuk 'jelang 1 abad Muhammadiyah'... Maka berikutnya ramai2 jelang pemutaran perdana film "Sang Pencerah".

Selanjutnya...

Sunday, February 28, 2010

bahaya ngajari doa bwt ortu

"Yaa Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orangtuaku. Dan sayangilah mereka sebagaimana mereka meyayangiku sewaktu masih kecil". Apa seh yg bahaya dr do'a yg sangat terkenal itu, untuk diajarin sama anak2 kita?. Sekilas emang 'biasa' atau bahkan karena dah terlalu sering hingga tak ada lagi 'greng'-nya dr do'a itu? Setiap orangtua pasti mendambakan anak2nya kelak, selain berbakti padanya juga rajin membaca do'a tsb, bahkan ketika orangtuanya dah meninggal sekalipun.

OK! mari kita teliti arti dr do'a tersebut... lalu sesuaikan dg perilaku qta pada anak2. Arti kalimat pertama "Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orangtuaku"... sampai sini gakada masalah!. Tapi kalimat kedua "Dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu masih kecil"... di sini tempat 'bahaya'nya. Ketika do'a ini dibacakan oleh anak kita dan harapannya do'a-nya makbul... perlu introspeksi dikit ke dalam diri kita sebagai orangtua. Apa yg telah kita berikan pada anak2 sewaktu mereka masih kecil?

Sebagian orangtua yang sibuk, justru membagi kasih sayangnya dg yang lain. Pagi berangkat kerja ketika anak2 belum bangun, dan pulang ketika mereka telah tertidur dalam gelisahnya. Atau yg agak mendingan, pagi sempat ketemu dalam suasana yg serba terburu2, hingga tak sempat lagi bercanda ria. Sore mungkin juga masih sempet ketemu tapi dalam kondisi orangtua capek luar biasa, hingga tak mampu lagi telinga ini mendengar celoteh manja anak2. Belum lagi bagi wanita karier yg memutus ASI ekslusif sebelum anak usia 2 tahun. Lalu disusukan induk Sapi, yg susunya paling cocok ya untuk anak2 sapi. Wanita2 yg bekerja bukan karena 'perlu' tapi karena 'ingin' bekerja. Wanita2 yg berkarier bukan sekedar untuk 'mendapatkan' tapi untuk 'menjadi'.

Waktu, tenaga, pikiran yg berkualitas untuk berbagi kasih sayang dg anak, justru dihabiskan di luar rumah. Ironisnya ketika ditanya: "ini semua demi anak2!!". Ketika anak2 merengek2, gampang saja tinggal dibeliin mainan, game, atau es krim... beres!. Kita udah ngajarin budaya 'sogok/tutup mulut' pada anak2 sejak masih balita. Padahal yg mereka butuhkan adalah curahan kasih sayang yg tulus dr orangtua. Makanya gak terlalu heran kalo hari gini banyak koruptor... bisa jadi emang para orangtua telah ngajarin hal gituan sejak masih kecil.

Balik lagi ke masalh bahaya ngajarin do'a tadi. Kalo kasih sayang orangtua sama anak tuh 'setengah hati', dan kita ngajarin anak2 berdo'a agar Allah ngasihi kita seperti kita ngasihi mereka waktu masih kecil.... dan sangat-sangat berharap agar do'a anak kita dikabulkan, apa gak bahaya tuh ????? Gimana kalo Allah cuman setengah ridho dan setengah sayang sama kita? lalu yg setengah lagi adalah adzab?.... Na'udzubillah !!!

Jadi bukan ngajarin do'anya yg bahaya, apalagi isi do'anya, pastilah bagus!. Tapi hendaknya kita juga introspeksi diri... bener gak sih sebagai orangtua, kita udah nyurahin kasih sayang full..... sama anak2 ??. Hingga berharap Allah juga akan perlakuin kita sama dg perlakuan kita pada anak2.... Semoga bermanfaat, Amien!.

Labels:


Selanjutnya...

Friday, October 02, 2009

happy batik day



...dan sebagian saudara kita di Padang, Sumatera Barat, tak mampu memakai baju batik. Karena hanya memiliki sepotong kain kafan... putih bermotif merah bercak darah...




Selanjutnya...

Thursday, October 01, 2009

earthquake again



kembali Allah menegur kita dengan cara-Nya yang 'cukup sopan'... Adakah kita 'mendengar'nya??




Selanjutnya...

Wednesday, September 23, 2009

after 'party'


masih adakah jejak keshalihan Ramadhan di 11 bulan sesudahnya? Karena hanya orang-orang bertaqwa yang konsisten melestarikannya...


jika para sahabat Nabi SAW saja selalu gelisah jika ditinggal Ramadhan, karena begitu khawatir kalau amal-amalnya nggak diterima Allah, pantaskah kita yang beribadah 'seadanya' berbangga-bangga "Merayakan Kemenangan" dan kembali suci, untuk siap mengotori diri lagi dengan dosa dan maksiat?




Selanjutnya...